(Sedikit) Wisata Kuliner di Perth
Sebenarnya ini agak berlebihan kalau disebut sebagai wisata kuliner …
Hotel tempat saya menginap selama di Perth ternyata tidak menyediakan makan pagi yg termasuk dalam harga kamar seperti biasanya hotel di Indonesia. Sebagai opsi-pun tidak, tapi ada restoran dan bar di sebelah lobby. Ada untungnya juga, karena saya tidak perlu memilih dan mempertanyakan kehalalan makanan yg disajikan. Lagi pula saya sebenarnya tidak biasa makan makanan berat untuk sarapan, kecuali kalau sedang menginap di hotel (supaya tidak mubazir sudah bayar mahal, sayang kalau tidak dimanfaatkan … hehehe).
Karena hotel terletak di down-town jadi cukup dekat jalan kaki untuk sampai ke pusat keramaian, mall dan kafe. Hari pertama, karena sudah merasa cukup makan roti yg saya beli malam sebelumnya, saya hanya menemani minum kopi teman seperjalanan di kedai kebab. Tiga hari berikutnya saya selalu sarapan pagi di kafe Exomod yg terletak di Barrack Street yg menyediakan akses internet gratis selama 40 menit pertama. Saya hanya memilih banana cake atau raisin cake secara bergantian, plus cappuccino tentu saja.
Sebenarnya banyak alternatif kafe lainnya, ada Croissant Corner dll. Tapi seperti biasa saya pengen aman, malas mencoba hal-hal lain / baru … Lagi pula kafe pilihan saya sudah buka jam 7 pagi sementara yg lain umumnya baru buka jam 8 atau 9. Sayang tidak sempat foto-foto di situ karena saya jalan sendiri, mau minta tolong orang kok kelihatannya sibuk semua, begitu beli kopi langsung dibawa pergi dan diminum sambil jalan …
Saya sebenarnya tidak terlalu bermasalah dengan menu non-Indonesia, yg penting halal. Tapi teman yg satu lagi baru dua hari sudah pengen makanan Indonesia. Karena teman tsb. alumni Curtin Univ. maka saya diajak ke salah satu rumah makan Indonesia langganannya dulu, yaitu Batavia Corner yg terletak di Albany Highway. Sebenarnya menunya biasa saja, tapi cukup bikin penasaran.
Pada hari ke dua saya diajak makan malam oleh mantan mahasiswa saya dan teman sesama alumni Geofisika-ITB ke Cicerello yg terletak agak jauh, yaitu di Fremantle. Menu khas-nya adalah fish and chips alias ikan dan kentang goreng. Saya pilih ikan bakar, bukan yg digoreng. Katanya sih di situ bukan yg terenak tapi yg paling terkenal, jadi rasanya suatu keharusan makan di situ kalau sedang ke Perth …
Itulah sebabnya, keesokan harinya teman seperjalanan saya mengajak ke Cicerello lagi, makanya saya punya foto-foto di sana dengan suasana siang hari yg cukup cerah …

Yang agak unik adalah benda berbentuk piringan seperti di foto di bawah ini, yg diberikan setelah kita pesan dan membayar. Awalnya saya tidak tahu benda itu untuk apa (wah ndeso juga ya …) Ternyata itu adalah semacam pager yg akan berbunyi dan lampunya menyala jika makanan pesanan kita sudah siap. Kita harus mengambil sendiri makanan ke counter …

Sebenarnya kita bisa makan di dek luar dengan pemandangan kapal-kapal yg sedang sandar. Meskipun sudah mulai musim semi dengan temperatur rata-rata 20 derajat Celcius tapi angin yg cukup kencang membuat udara masih terasa dingin bagi orang tropis … makanya kami makan di dalam saja …

(Sumber: http://grandis.wordpress.com/2009/10/29/sedikit-wisata-kuliner-di-perth/)

